SEJARAH PAROKI
SANTO PETRUS DAN PAULUS BATURAJA
(Update sampai mei 2026)
Jejak Misionaris kongregasi Sacro Corde Jesu (SCJ)
26 November 1947 Mgr Henricus Mekkelholt memberi tugas kepada Pastor Theodorus Borst untuk mengelola rumah yatim piatu3 yang telah didirikan oleh Pastor Henricus Hermelink yang akan pindah ke Lahat. Setelah menangani panti asuhan yang sudah berjumlah 63 anak itu pastor Theodorus Borst merasa ada yang kurang karena gedung yang dipakai masih pinjaman dari suster Hati Kudus dan pasti tidak bisa ditempati selamanya.
Karena dua alasan diatas, orang ogan yang ingin masuk katolik dan ingin memindahkan panti asuhan, tanpa rasa jenuh dan takut kena marah Pastor Theodorus Borst berkali-kali menemui Mgr Henricus Mekkelholt untuk meminta ijin pindah ke Baturaja, berkali-kali juga Mgr Henricus Mekkelholt menolak.
Januari 1948 Mgr. Henricus Mekkelholt mengadakan pertemuan dengan para pastor. Akhirnya, dalam pertemuan itu ada kesempatan untuk mengajukan usul, Pastor Theodorus Borst mengajukan permohonannya, jawaban Mgr. Henricus Mekkelholt sangat pendek, "Gila!" katanya.
Awal Maret 1948, Pastor Theodorus Borst dan Bruder Fidelis van der Ende berdoa novena kepada Santo Yusuf4. Usai berdoa, Pastor Theodorus Borst mengatakan kepada Bruder Fidelis bahwa dirinya akan menghadap kepada Mgr. Henricus Mekkelholt sekali lagi. Bila sekali lagi ditolak, Pastor Theodorus Borst akan berhenti mengajukan permohonan pindah.
Sore hari, Pastor Theodorus Borst menemui Mgr.
Henricus Mekkelholt yang sedang
berdoa di serambi susteran Rumah Sakit Charitas.
Ketika melihat kedatangan Pastor Theodorus Borst, Mgr. Henricus Mekkelholt langsung
menoleh dan berkata, "
Pergilah!" Jawabannya pendek dan langsung kena. Barangkali Mgr. Henricus Mekkelholt
sudah dapat memastikan apa yang hendak di katakan oleh Pastor Theodorus Borst. Jadi sore itu, Mgr. Henricus Mekkelholt
tidak perlu lagi mendengar permohonan Pastor Theodorus Borst, tapi langsung mengabulkan
permohonan itu, sebelum Pastor Theodorus Borst mengajaknya bicara.
Pagi hari tanggal 16 Maret 1948 Pastor Theodorus Borst tiba di Batuputih dengan kendaraan Jeep dan dikawal tentara belanda, pertemuan diadakan didepan rumah Abdul Hulik di bawah pohon sawo, 77 orang mengikuti pertemuan itu dan masih banyak yang lain ikut menonton dari jauh. Pastor Theodorus Borst mengajarkan doa Bapakami dan meminta utusan untuk menemui bapak uskup di Palembang. Empat orang itu adalah Abdul Hulik (Kriyo), Damseh (Khotib), Alwie (Kiai) dan alisuni (Kiai).
28 Maret 1948 adalah hari paskah, Pastor Theodorus Borst merayakannya bersama dengan 4 tokoh Batuputih di Palembang, sudah 14 hari mereka belajar agama dan pulang kembali ke Batuputih untuk mengajarkan agama katolik di Batuputih. Setelah paskah Pastor Theodorus Borst kembali ke Baturaja menemui tuan Luyks, atas sarannya, seorang pesirah dan sersan KNIL memperbaiki rumah yatim piatu di saung naga yang terkena mortir.
Juni 1948 Pastor Theodorus Borst dan Bruder Fidelis serta 12 anak panti pindah ke Baturaja, mereka menyewa truk militer belanda untuk mengangkut barang-barang dari Talang Jawa, setelah itu naik kapal menyebrangi sungai Musi sampai Kertapati. Mereka melanjutkan perjalanan dengan kereta api sampai Baturaja5. Bruder Caspar sudah lebih dahulu tiba di Baturaja untuk menyiapkan segala sesuatu yang perlu.
Awal juli Pastor Theodorus Borst juga membangun kapel disamping rumah panti asuhan, Paroki Baturaja resmi berdiri, Pastor Theodorus Borst adalah pastor paroki yang pertama. Dan untuk mengingatkan pertolongan dari novena kepada santo yusuf maka panti asuhan tersebut di beri nama Rumah Yusuf, dan mengambil tanggal santo yusuf yaitu 19 Maret 1948 menjadi titik awal Rumah Yusuf.
Pada 1 Agustus 1948 hasil swadaya penduduk, Pastor Theodorus Borst dan 4 tokoh gereja perdana Batuputih berhasil mendirikan HIS (Hollands Inlandse School) diatas tanah sewa pemerintah, dan dipimpin oleh Abdul Hulik. Pemerintah tidak mengizinkan Abdul Haulik merangkap sebagai “kriyo” (Kepala dusun) dan guru. Dihadapkan pada pilihan ini Abdul Haulik memutuskan lebih memilih menjadi guru. Jabatan kriyo diserahkan kepada Damsik.
Pastor Theodorus Borst banyak kenal dengan semua orang, salah satunya dokter Meyer (dokter tentara belanda) yang bertugas di Rumah Sakit Umum Baturaja (sekarang RSU Ibnu Sutowo), meminta supaya dicarikan suster untuk membantu pekerjaan di rumah sakit pemerintah.Untuk membantu misi Pastor Theodorus Borst menghubungi Muder Odulpha dan disetujui Mgr.Henricus Mekkelholt.
21 september 1948 berangkat dari palembang dengan 5 suster, 8 anak dan seorang pembantu, dengan diantar 2 mobil truk, naik kapal menyeberang sungai musi dan naik kereta api.Kira-kira jam 1 siang tiba di Baturaja dijemput Pastor Theodorus Borst dan dokter Meyer. Suster Fransiskanes Santo Georgius Martir itu adalah Sr. M. Winiberta, Sr. M. Romualdis, Sr. M. Paulien, Sr. M. Jose dan Sr. M.Clara Sujiah. Keesokan harinya dua suster langsung bekerja di rumah sakit, Sr. Pauline di bagian pria dan Sr. Jose di bagian wanita dan anak-anak. Semuanya tinggal di dalam rumah sakit dan beberapa kamar dipakai, kamar bekas suster belanda dijadikan kapel untuk tempat sembahyang.
31 Oktober Pastor Theodorus Borst mempermandikan 25 orang ogan keluarga dari 4 tokoh Batuputih, Petrus Abdul Hulik, Paulus Damseh, Yohanes Alwie dan Yosep alisuni.
20 November 1948, Pastor Theodorus Borst dan Bruder Fidelis juga mendirikan HIS di “kolong” rumah yusuf dan para guru didatangkan dari manado. Yohanes Rumagit menjadi kepala sekolahnya. Bruder Fidelis dan suster FSGM juga menjadi guru.
Tahun 1949 Pastor Theodorus Borst merencanakan pembangunan gereja di Batuputih secara swadaya, Akhir tahun Pastor Leo Kwanten datang bertugas di Batuputih dan melanjutkan pembangunan gereja. Tahun 1950 Gereja Batuputih diberkati oleh Mgr. Henricus Mekkelholt.
Juli 1950 Pastor Theodorus Borst menyewa tanah dari DKA (Dinas Kereta Api) mendirikan gedung permanen yang sebelumnya berada di bawah kolong rumah yusuf, akhir tahun sudah dipakai menjadi SD Xaverius.
21 september 1951 tiga tahun Suster dari Thuine di Baturaja, Doa kepada St. Antonius dikabulkan, Pastor Theodorus Borst membawa kabar baik, ada orang menawarkan tanah dengan kebun karet, setelah bicara dengan muder Odulpha dan Mgr. Henricus Mekkelholt akhirnya dibeli tanah 16.000m2 dengan harga Rp.2.200 per meter persegi dari keluarga Lay.
22 Mei 1952 Pembangunan Susteran dan Klinik Bersalin dimulai, Peletakkan Batu Pertama oleh Mgr. Henricus Mekkelholt. Dan ditahun yang sama, masa tugas Pastor Theodorus Borst berakhir dan digantikan oleh Pastor Egidius Isidorus Belle Maker. SCJ
Bulan Juli 1952 Suster-suster yang berkarya di rumah sakit mulai berpamitan karena akan mengurusi rumah baru dan membuka klinik bersalin di Kalam.
Tahun 1955 Pemilu pertama di Indonesia, selesai pemilu Pastor Belle Makers membeli tanah di pusar, dan langsung membangun gedung baru.
Tahun 1956 anak rumah yusuf menempati gedung itu. Kapel berada dibawah yang sekarang menjadi ruang makan.
Oktober 1956 Pastor Joseph Hubertus Soudant,SCJ6 menggantikan Pastor Belle Makers, tetapi tidak lama, mei 1958 pastor Joseph Hubertus Soudant cuti ke Belanda. Dan digantikan dengan Pastor Jan Boonen,SCJ.
Pada tahun 1958 Pastor Jan Boonen membangun Kapel di samping Rumah Yusuf, pembangunan di serahkan kepada PT Folker, pada tahun 1959 Presiden Soekarno menetapkan kembali UUD 1945 dan semua perusahaan Belanda diambil alih pemerintah Indonesia maka pembangunan kapel dilanjutkan oleh PT Waskita Karya. Sampai tahun 1960 pembangunan kapel belum selesai karena gejolak politik yang terjadi. Pastor Jan Boonen digantikan oleh Pastor Jan Van Kaam, SCJ. Beliau melanjutkan menyelesaikan pembangunan kapel dan pada tahun 1962 kapel sudah bisa dipakai anak-anak Rumah Yusuf dan umat paroki baturaja.
Pada tahun 1964 pastor Leo Kwanten, SCJ menggantikan Pastor Jan Van Kaam. Tahun yang sangat rawan karena krisis politik di Indonesia dan puncaknya ada di tahun 1965 pecahnya G30S/PKI. Pastor Abdi Putraraharja, SCJ menggantikannya, karena keadaan mulai kembali normal dan efek dari Gestapu (Gerakan September tigapuluh) adalah banyaknya umat mendadak Katolik maka Pastor Abdi Putraraharja mempunyai ide mendirikan gereja dipusat kota Baturaja. Akhirnya tanah dibeli di daerah Kalam. Untuk membantu pembangunan gereja tersebut Pastor Abdi Putraraharja membentuk Dewan Umat yang dipimpin oleh dr Tjoe Pohan (dr Handoko) dan CM Nainggolan.
Pembangunan Gereja St. Petrus dan Paulus Baturaja dipercayakan pada SIET & SONS Contractor dari Tanjungkarang. Djohan Sitanalia yang menjadi ketua pelaksana pembangunan dan dari umat baturaja, Sofjian menjadi asisten pelaksana. Terlihat jelas dari surat keterangan bahwa pembangunan mulai bulan Juni 1966 sampai Juli 1967. Setelah mendapat izin dari Bupati OKU Rustam Efendi, Peletakkan batu pertama dilakukan oleh Mgr. Joseph Hubertus Soudant pada tanggal 29 juni 1966 yang bertepatan dengan hari Santo Petrus dan Paulus.
Pastor Petrus Abdi Putraraharja SCJ juga berani membuka SMA Xaverius pada tahun 1966, dipimpin oleh dengan memakai gedung SMP Xaverius yang kegiatan belajarnya pada sore hari. Tetapi hanya berjalan 3 tahun karena Uskup tidak menyetujuinya, 1969 sekolah itu meluluskan 20 siswa dari 21 siswa dan bubar atau ditutup.
Awalnya Gereja akan dibangun di tempat sekarang berdirinya TK Fransiskus, tetapi karena suster FSGM juga akan mendirikan sekolah maka terjadi kesepakatan atau istilahnya sekarang tukar guling tanah. Akhirnya gereja itu seperti sekarang ini. Pastor Petrus Abdi Putraraharja menginginkan juga pintu depan gereja dibuat 2 karena pelindung gereja kita 2 orang santo yaitu santo Petrus dan santo Paulus, demikian juga teras gereja dibuat 7 lengkungan yang mengingatkan akan 7 sakramen gereja.
Juli 1967 Gereja St Petrus dan Paulus Baturaja selesai 90 persen karena kehabisan biaya dan masa paceklik, dana untuk pembangunan menara lonceng ikut terpakai dalam pembangunan gereja. Sekitar Akhir tahun 1967 terjadi “isu” akan adanya pembakaran gereja dikarenakan masyarakat sekitar tidak setuju dengan pendirian menara lonceng yang beratnya 5 ton karena pasti akan menggangu sekali jika lonceng itu berbunyi. Penjagaan gereja dilakukan tiap malam oleh umat gereja bergiliran, baik dari Baturaja dibantu orang Batuputih dan Pusar.
Pastor Abdi Putraraharja menyerukan kepada umat “ jika ada yang mati, kuburkan di bawah menara gereja” dan roh kudus telah bekerja untuk umat paroki ini, tidak terjadi hal-hal buruk sampai pada tulisan ini dibuat. Menurut Sofjian ketika paket lonceng itu datang, ada keterangan berat hanya sekitar 80 koma sekian kilogram.
Walaupun gereja belum selesai, tetapi sudah dipakai untuk misa pernikahan dan misa kematian. Pembangunan menara dilanjutkan oleh tukang-tukang yang juga sedang mengerjakan pembuatan dapur rumah sakit Antonio. Diceritakan diatas bahwa suster FSGM akan membangun sekolah, TK xaverius I berdiri juga dan dipakai pada tahun 1967.
Pada tahun 1968 Mgr. Joseph Hubertus Soudant, SCJ memberkati gereja St. Petrus dan Paulus Baturaja. Pastor Abdi Putraraharja membeli seekor kerbau untuk peresmian gereja, diantarkan oleh tuannya dengan berjalan kaki sampai di rumah yusuf, setelah itu Pastor Abdi Putraraharja menugaskan Pak Noel untuk merawatnya, pada suatu ketika kerbau tersebut mengamuk dan tali ikatannya putus akhirnya pergi, ternyata kerbau tersebut kembali ke tuannya di Banuayu.
Pastor Abdi Putraraharja adalah imam angkatan pertama seminari dari lampung, karena melihat umat katolik semakin berkembang dan banyak juga yang belum memiliki tempat tinggal, maka bersama dengan Dewan Umat yang pada masa itu sebagai pengurus adalah dr. Hadi Winoto, CM Nainggolan, dr. Sapto Saputro dan Ignatius Suwardjo memutuskan untuk mencari tanah. Mereka menemui pesirah sepancar dan mengutarakan keinginan, akhirnya mendapat tanah marga seluas 22,5ha.
Pada tanggal 14 Mei 1968 berdirilah Tegal Arum, secara bergotong royong selesai misa kudus hari minggu umat diajak kesana dengan naik “truk mos” untuk babat alas. Perdana yang menempati tegal arum diambil dari karyawan pabrik Tjik Ebek dan karyawan Rumah yusuf, setiap kepala keluarga mendapat jatah tanah 2ha.
Masa tugas Pastor Abdi Putraraharja terhitung mulai tahun 1964 sampai 1972, dan digantikan oleh Pastor Nico Van Steekelenburg, SCJ.
Tahun 1973 atap Kapel Rumah Yusuf diganti dan lonceng diturunkan kemudian dipindahkan ke tegal arum oleh bruder purwo,SCJ. Dan pada tahun yang sama juga ada kejadian yang harus ditulis disini, Perencanaan pembangunan jalan menuju PT Semen Baturaja sebenarnya akan melintasi gereja dan susteran tetapi roh kudus turun ke umat paroki baturaja yang pada waktu itu menjabat sekretaris partai PDI yaitu Ignatius Suwarjo. Langkah beliau tidak tanggung-tanggung setelah berkomunikasi dengan oleh Pastor Nico Van Steekelenburg dan ketua partai, menulis surat kepada Presiden Soeharto. Rupanya tidak sampai satu bulan sudah ada utusan dari Jakarta datang dan memberitahukan bahwa gambar perencanaan itu salah.
Rupanya peristiwa itu juga sudah terdengar oleh vatican, maka Duta Besar Vatican untuk Indonesia Mgr Vincenzo Farano langsung mengunjungi Baturaja melihat situasi dan memberikan misa syukur bersama uskup Mgr Joseph Soudant.
29 Juni 1973 diadakan perayaan syukur 25 tahun atau Pesta Perak paroki dan Susteran Antonio, Misa syukur dilakukan oleh pastor yang telah berkarya dan dari Paroki Batuputih, yaitu Pastor Theodorus Borst, Pastor Nico Van Steekelenburg, Pastor Aj. Bontje, Pastor Cz. Koziel dan Pastor Abdi Putraraharja, setelah misa dilakukan ramah tamah dan hiburan di aula susteran.
Gambar Suasana Gereja 1969 sampai 1974
Tahun 1977 dibuatlah patung Bunda Maria dan patung St. Petrus dan Paulus oleh seniman yang berasal dari belitang.
Gambar gereja awal Tahun 1978
Tahun 1980 Pastor Nico Van Steekelenburg dan DPP pada saat itu dipimpin oleh JV. Hapizul membangun Balai Paroki secara swadaya umat paroki bergotong royong. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Mgr Joseph Soudant.
Tahun 1981 pada saat pergantian pastor, Pastor Nico Van Steekelenburg dan Pastor Freddy Bambang Sutarno, Pr bersama-sama melakukan peletakkan batu terakhir di teras Balai Paroki Baturaja. Pemberkatan dilakukan oleh kedua Pastor, dan secara simbolis Pastor Nico Van Steekelenburg menyerahkan kunci Balai Paroki kepada Pastor Freddy Bambang Sutarno.
Pastor Freddy Bambang Sutarno adalah pastor diosesan pertama yang menjadi pastor paroki Baturaja, setelah sekian lama yang berkarya adalah dari konggregasi Hati Kudus Yesus atau SCJ. Perkembangan umat paroki semakin maju, Pastor Freddy Bambang Sutarno membuka stasi Bindu dan Merbau. Dan pada tahun 1984 membangun gedung SMA Xaverius di kompleks Panti Asuhan Rumah Yusuf. Pastor Freddy Bambang Sutarno banyak membeli tanah untuk membantu karyawan salah satunya berada di daerah Sarang Elang (Kapuran) dan tanah di depan kantor Pajak Baturaja.
Tahun 1986 Pastor Agus Sumaryono, Pr menggantikannya. Membuat taman diantara SMA Xaverius dan Rumah Yusuf serta membuat patung Pastor Borst untuk mengenang jasa perintis di paroki baturaja ini. Patung didalam gereja juga ikut di rombak, oleh FX Sumardi seorang seniman yang berasal dari Jogjakarta. Selesai pembuatan patung bunda Maria serta patung Santo Petrus dan Paulus, anaknya FX Sumardi yang bernama Yulianus Indrayana menyumbangkan dana untuk penggantian plafon gereja.
Wilayah I terdiri dari empat Lingkungan
Lingkungan Agustinus
Lingkungan tertua di Paroki Baturaja, daerah seputaran gereja desa Air Gading. Jumlah Kepala Keluarga ada 44KK dan jumlah umat 161 orang.
Lingkungan Paulus
Lingkungan ini berada di desa Sukajadi, mulai dari rel dan lorong-lorong. Jumlah Kepala Keluarga ada 37KK dan jumlah umat 138 orang
Lingkungan Petrus
Lingkungan Petrus berada di desa Sukajadi yang berada dijalan Aspal. Jumlah Kepala Keluarga ada 29KK dan jumlah umat 101 orang
Lingkungan Yoseph
Lingkungan ini diseputaran KPR sampai Jalan Lintas. Jumlah Kepala Keluarga 26KK dan jumlah umat 98 orang
Wilayah II terdiri dari tiga Lingkungan :
Lingkungan Donbosco
Lingkungan perdana di Paroki Baturaja, daerah lingkungan ini dari desa Tanjung Agung sampai desa Pusar. Jumlah Kepala Keluarga ada 31KK dan jumlah umat 113 orang.
Lingkungan Aloysius
Lingkungan ini di seputaran desa Talang Jawa sampai Gudang Garam. Jumlah Kepala Keluarga ada 11KK dan jumlah umat 33 orang.
Lingkungan Clara
Lingkungan ini berada di seputaran pasar atas, mulai dari Gudang garam, sampai jembatan ogan I. Jumlah Kepala Keluarga ada 91KK dan jumlah umat 270 orang.
Wilayah III terdiri dari tiga lingkungan
Lingkungan Yohanes Pembabtis
Lingkungan ini sangat luas daerahnya, terdiri dari desa, daerah Air Paoh sampai perumahan RS dan sampai jembatan Ogan 2. Jumlah Kepala Keluarga ada 50KK dan jumlah umat 190 orang
Lingkungan Yohanes Rasul
Lingkungan ini pemekaran dari Yohanes Pembabtis, daerah mulai KLK/depnaker sampai Sepancar. Jumlah Kepala Keluarga ada 24KK dan jumlah umat 70 orang
Lingkungan Yokobus
Lingkungan ini diseputaran Pasar Baru, Jumlah Kepala Keluarga ada 25KK dan jumlah umat 80orang
Wilayah IV
- Stasi Tegal Arum
Lingkungan Maria 40 KK 114 orang
Lingkungan Stefanus 36 KK 106 orang
Lingkungan Yusup 50 KK 168 orang
Lingkungan Petrus 34 KK 116 orang
Lingkungan Paulus 31 KK 94 orang
Lingkungan Cicilia 24 KK 59 orang
Lingkungan Markus 30 KK 102 orang
Jumlah Kepala Keluarga = 245 KK
Jumlah umat = 759 jiwa
- Stasi Bindu / Talang Kelompok dirintis oleh Romo Freddy
Jumlah Kepala Keluarga = 6 KK
Jumlah umat = 17 jiwa
- Stasi Merbau dirintis oleh Romo Freddy
Jumlah Kepala Keluarga = 17 KK
Jumlah umat = 47 jiwa
- Stasi Barito dirintis oleh Romo Clemens
Jumlah Kepala Keluarga = 7 KK
Jumlah umat = 18 jiwa
- Stasi SP3 dirintis oleh Romo Silvester Joko Susanto
Jumlah Kepala Keluarga = 9 KK
Jumlah umat = 24 jiwa
- Stasi Lugur dirintis oleh Romo Silvester Joko Susanto
Jumlah Kepala Keluarga = 3 KK
Jumlah umat = 6 jiwa
(Data diatas diambil sampai dengan bulan Juni tahun 2016, berdasarkan data yang direkap dari ketua lingkungan dan ketua stasi)
Berdasarkan data diatas, sudah diketahui kurang lebih umat paroki baturaja ada 655 KK dan 2125 umat katolik.
1 paroki/pa·ro·ki/ n Kat daerah (kawasan) penggembalaan umat Katolik yang dikepalai oleh pastor atau imam sumber (http://kbbi.web.id/paroki)
Paroki adalah komunitas kaum beriman yang dibentuk secara tetap dengan batas-batas kewilayahan tertentu dalamKeuskupan (Gereja Partikular). Sebagaimana Gereja terutama adalah himpunan umat beriman, bukan gedung, maka pengertian paroki pun pertama-tama adalah himpunan orang, bukan sekadar wilayah, walaupun sifat kewilayahan sebagai aspek yang tetap juga inheren padanya (Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik, kanon 515 art. 1). Uskuplah yang berwenang mendirikan, membubarkan atau mengubah Paroki (Kitab Hukum Kanonik kanon 515 art 2). Pada umumnya Paroki bersifat teritorial, bukan personal, bukan kategorial, di dalam prinsip organisasinya. Sumber (https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Paroki&veaction=edit&vesection=1)
2 Herman sunu hal 154
3Sejarah GKI hal 190
4 Yubelium Yay XAV hal 82
5 Wawancara dengan bpk Zaelani
6 https://id.wikipedia.org/wiki/Joseph_Hubertus_Soudant
KUMPULAN FOTO
ROMO PAROKI YANG PERNAH MENJABAT
DI PAROKI ST.PETRUS DAN PAULUS BATURAJA
![]() |
| Th |
![]() |
| Nico van Steekelenburg |
![]() |
| Nico Van |
![]() |
| Fredy |
![]() |
| Sukino |
![]() |
| Abdi |
![]() |
| Br. Henricus Caspar KLOOS |
![]() |
| Br. Lukas Stefanus Purwosiswoyo |
![]() |
| Br. Thomas Aloysius PURWOSEPUTRO |
![]() |
| Egidius Isidorus BELLEMAKERS |
![]() |
| JanvanKaam |
![]() |
| Mgr. Joseph Hubertus SOUDANT |
![]() |
| P.Leo Kwanten, SCJ |
![]() |
| P.Theodorus Willibrodus BORST |
![]() |
| soudant |








































